Pekan 21 “Kejari Harus Segera Mengusut Kasus Menara Mesjid Al Markas Maros”.

Kondisi Menara Mesjid Al Markas Al Islami Maros

Maros – suarapesisir.co.id, Masyarakat Buttasalewangeng Maros di Sulsel, dalam hati bertanya, mungkinkah “Kemegahan menara Mesjid Al Markas Al Islami Maros, dapat kami lihat?!”

Harapan masyarakat Maros itu tentulah sangat beralasan, betapa tidak, karena menara mesjid yang dibangun oleh pemerintah kabupaten Maros dari dana APBD sejak tahun 2015, hingga kini tidak kunjung tuntas pembangunannya.

Padahal proyek tersebut berawal sejak tahun 2015 telah menyerap dana APBD sebesar Rp 570.000.000,- (lima ratus tujuh puluh juta rupiah), dan di tahun anggaran 2016 pemerintah Kabupaten Maros kembali menganggarkan lewat ABPD sebesar Rp 480.000.000,- (empat ratus delapan puluh juta rupiah).

Tidak hanya itu, menurut Koordinator Investigasi LSM Pekan 21 Agun Sanrima yang juga merupakan Peneliti Aliansi Pena Merah, kepada suarapesisir mengatakan, “pada tahun anggaran 2017 pemerintah Kabupaten Maros lagi-lagi menggelontorkan dana APBD untuk kelanjutan pembangunan menara Mesjid Al Markas Al Islami Maros sebesar Rp 759.000.000,- (tujuh ratus lima puluh sembilan juta rupiah) dimana pada saat itu sebagai pemenang tender yakni CV. Sinar Mulya, dan pengawasan pekerjaan pembangunannya ditangani langsung oleh Cipta Karya”.

Namun ironisnya, menara yang telah menelang biaya milyaran rupiah dari dana APBD kabupate Matos tersebut, pada sekitar bulan Februari 2017, entah karena cuaca ekstrim dikala itu, menara mesjid yang digadang-gadang masyarakat bakal menjadi ikon baru di kota Buttasalewangeng Maros terjadi keretakan disalah satu titik, sehingga mengalami kemiringan yang cukup mengkhawatirkan.

Agun Sanrima kepada suarapesisir mengatakan bahwa hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh beberapa ahli dibidang kontruksi, terjadinya keretakan yang mengakibatkan kemiringan, itu karna adanya ketidak sesuaian spesifikasi yang disyaratkan oleh konsultan perencanaan proyek.

Menurut Agun Sanrima, dengan kasus miringnya menara mesjid Al Markas Al Islami Maros tersebut yang diakibatkan karena pekerjaan yang dilakukan tidak sesuai dengan RAB, maka pada bulan Februari 2017, BPKP turun melakukan audit terhadap pelaksanaan pekerjaan proyek tersebut, dan hasil audit saat itu disimpulkan bahwa telah terjadi kerugian negara yang disebabkan oleh kelalaian pihak ketiga dan pihak-pihak lain yang terkait dalam pembangunan proyek menara mesjid Al Markas Al Islami Maros.

Menara miring mesjid Al Markas Al Islami Maros itupun akhirnya dirobohkan hingga pada titik yang diduga telah mengalami keretakan, dan kemudian kembali dibangun dengan konstruksi baja yang tampak berbeda dengan rancangan sebelumnya.

Saat ini menara mesjid Al Markas Al Islami Maros hanya tampak berdiri menjulang tinggi, kaku dan tidak kunjung tuntas pembangunannya, begitupula proses hukumnya, kendati hasil audit BPKP menyimpulkan bahwa telah terjadi kerugian negara pada pelaksanaan proyek menara mesjid Al Markas Al Islami Maros.

Karena itulah Agun Sanrima peneliti LSM Pekan 21, dan sebagai masyarakat Maros berharap, sebagaimana surat pengaduan LSM Pekan 21 nomor. 089/LSM PEKAN-21/VII/2018, tanggal 20 Juli 2018 yang meminta pihak Kejaksaan Negeri Maros sebagai pilar utama penegakan hukum, segera mengusut tuntas proses hukum kasus pembangunan menara mesjid Al Markas Al Islami Maros, karena kasus tersebut meski sudah hampir satu tahun lamanya dalam penanganan pihak Penyidik Kepolisian Polresta Maros, namun belum juga menunjukkan adanya kemajuan proses hukum sebagaimana yang diharapkan.

Begitupula dengan kasus lain yang ada di Maros, yang sudah dinyatakan telah merugikan keuangan negara seharusnya oleh aparat penegak hukum lebih proaktif dalam mengusut tuntas proses hukumnya, sehingga tidak terkesan ada dusta diantara kita, tandas Sanrima sebelum ia mengakhiri kebersamaannya dengan saya.(SP/mukhlis)

Related Post

Leave a reply