“SENANDUNG POLITIK DARI WARUNG KOPI UNTUK PILKADA MAROS 2020”

Suasana masyarakat buttasalewangeng Maros, di Wapet, salahsatu warung kopi di pesisir timur pantai tak berombak (PTB) Kota Maros yang tengah larut dalam obrolan seputar Pilkada Maros 2020

MAROS-SUARAPESISIR.CO.ID, Obrolan terkait pilkada serentak 2020 dalam tataran lapisan masyarakat bawah, semakin terasa bahkan sudah sangat intensif terjadi di tempat berkumpulnya warga seperti warung kopi, pangkalan ojek, akibat ditariknya kelompok-kelompok masyarakat ke dalam tim pemenangan pasangan bakal calon. Bahkan eforia pilkada serentak 2020 kini gaungnya seakan telah merasuk keseluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Entah karena karakteristik masyarakat Indonesia khususnya masyarkat Maros, yang rata-rata keras dan fanatik akan identitas.

Namun, terlepas dari itu semua, hal ini tentu menunjukkan bahwa tingkat antusiasme masyarakat dalam pengawalan proses Pilkada Maros 2020 sangatlah tinggi.

Namun pertanyaan yang timbul, apakah pilkada selesai dalam proses kampanye hingga rekapitulasi bahkan penetapan kepala daerah terpilih saja? Jawabannya, belum.

Karena proses pilkada, merupakan pintu awal yang paling menentukan lahirnya sebuah perubahan positif yang dapat melahirkan sebuah tatanan kehidupan masyarakat Maros yang lebih sejahtera.

Masyarakat buttasalewangen Maros, setelah proses pilkada harus tetap mengawasi visi-misi kepala daerah terpilih yang akan dikonversi ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Pendek Daerah (RPJPD) dengan jangka waktu 5 tahun yang berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang berisi rencana pembangunan daerah 25 tahunan.

Berangkat dari hal itu, jika masyarakat Maros pasca-pilkada memutuskan diri untuk tidak mengawal jalannya roda pemerintahan maka boleh jadi, kebutuhan masyarakat pada tatanan lapisan terbawah tidak terjawab oleh produk kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah atau Bupati terpilih. (SP/Ji’Ully)

Related Post

Leave a reply