TIDAK ADA PENGAWASAN TATAKELOLAH DISTRIBUSI, ELPIJI 3 KG JADI LANGKA DI KAMPUNG

Tabung elpiji 3 kg milik Hj. Halija, pengecer elpiji 3 kg di pinggiran Kampung Dulang Kecamatan Tanralili, tinggal di gudang jadi karatan karena, sudah 3 bulan tidak mendapat pasokan dari agen dan pangkalan.

SUARAPESISIR.CO.ID – MAROS, Gas elpiji 3 kilogram yang diperuntukan bagi kalangan masyarakat miskin, hingga hari ini masih saja banyak digunakan oleh kelompok masyarakat mampu. Dan akibatnya, kuota gas elpiji 3 kg sering kali terjadi kelangkaan.

H. Maulana Azis, Kepala Bidang Humas HISWANA MIGAS Wilayah Sulawesi mengatakan, kelangkaan gas elpiji 3 kg merupakan permasalahan klasik yang selalu terjadi. Hal Itu karena gas elpiji 3 kg yang notabene menjadi hak masyarakat miskin justru banyak digunakan oleh kelompok masyarakat yang mampu.

Disamping itu, “kelangkaan terjadi karena tidak maksimalnya pengawasan. Seharusnya harus ada komunikasi yang intens dengan pemerintah daerah dalam hal ini OPD terkait, khususnya dalam tatakelolah dan pengawasan pendistribusian tabung elpiji 3 kg, agar tepat sasaran.” tandas Maulna.

Sementara itu Hj. Halija pengecer elpiji 3 kg di pinggiran Kota Maros, tepatnya di Kampung Dulang Kecamatan Tanralili mengatakan, bahwa sudah 3 bulan terakhir, kesulitan mendapatkan pasokan tabung 3 kg karena Agen dan Pangkalan, menyalurkan secara tidak merata.

Bahkan menurut Hj. Halija, meski telah menyetorkan pembayaran dimuka yang ia bayarkan sejak beberapa bulan lalu ke salah satu agen, namun hingga saat ini belum juga mendapat jatah pasokan, baik dari agen maupun pangkalan.

Hj. Halija merasa heran, karena elpiji 3 kg begitu sulit didapatkan di kampung, kalaupun ada itu dengan harga yang tidak sewajarnya, padahal setahunya elpiji 3 kg, diperuntukkan bagi mereka yang kurang mampu, tandasnya .

Lebih lanjut Hj. Halija menuturkan, seharusnya pihak Pertamina atau Pemerintah turun langsung melihat kondisi di kampung-kampung, jangan hanya menerima laporan asal bapak senang dari para agen dan pangkalan. Ungkapna.

Karena boleh jadi kelangkaan elpiji 3 kg, itu terjadi juga karena permainan nakal para agen dan pangkalan yang menditribusi, secara tidak benar dan tidak merata serta satu agen melayani terlalu banyak pangkalan, sehingga distribusi elpiji 3 kg tidak tepat sasaran, bahkan pangkalan memainkan harga yang tidak sewajarnya.

Tidak tertibnya tatakelola distribusi gas elpiji 3 kg, serta tidak berjalannya sistem pengawasan dari Pertamina secara maksimal, sehingga dampaknya masyarakat miskin dipinggiran kampung semakin terpinggirkan untuk mendapatkan haknya sebagai pengguna gas elpiji bersubsidi.

(SP/Ully*)

Related Post

Leave a reply